Pengamat: Fintech Equity Crowdfunding Berpotensi Genjot Perekonomian

Tren positif penyelenggara jasa keuangan berbasis teknologi (fintech) terus berlanjut. Banyaknya startup fintech di Indonesia membuat inklusi keuangan tembus hingga 70%.

Di sisi lain, industri fintech saat ini masih didominasi oleh klaster (game) tertentu, seperti pinjaman personal (P2P Lending), pinjaman bisnis (B2B) hingga Payment Gateway.

Perlu diketahui, equity crowdfunding layanan keuangan berbasis teknologi yang fokus melayani perusahaan berskala mikro hingga menengah untuk mendapatkan pendanaan publik. Dalam layanannya, terdapat 3 pihak yang dilibatkan, yakni penerbit (pelaku usaha), penyelenggara, dalam hal ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta pendana atau pemodal.

Apa itu crowdfunding? Layanan ini berbeda dengan skema penawaran umum dalam Undang-undang tentang Pasar Modal. Perbedaan terletak pada nilai saham yang berada dibawah Rp 10 miliar dengan jangka waktu kurang dari satu tahun.

Selain itu, fintech Equity Crowdfunding hanya melayani badan usaha dengan valuasi aset kecil serta memiliki status perusahaan non-publik (pemegang saham tidak lebih dari 300 kepala).

Peraturan tersebut menjadi alasan mengapa klaster fintech ini cocok untuk mendukung industri UMKM yang ingin berkembang di skala besar. Sebagaimana diketahui, sektor usaha mikro di penghujung kuartal pertama 2019, berkontribusi terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) lebih dari 60 persen. Hal ini tentunya menjadi tantangan yang harus dimanfaatkan oleh pelaku yang terlibat di lingkup terkait.

Cerdas Memilih Platform Crowdfunding

Platform penggalangan dana online atau disebut crowdfunding semakin marak. Terlebih mencuatnya suatu kasus yang melibatkan salah satu platform crowdfunding di tanah air. Oleh sebab itu, cerdas memilih platform crowdfunding sangat diperlukan bagi mayasrakat yang ingin berdonasi.

Naluri membantu sesama ada pada diri tiap manusia. Hal itu patut disyukuri. Bila di zaman penjajahan dulu, dibutuhkan sosok pahlawan untuk membela kebenaran, di zaman moderen serba digital ini, makna pahlawan bisa lebih luas lagi. Pahlawan bisa juga berarti memberikan uang tenaga, waktu, pikiran dan lainnya untuk orang lain secara ikhlas.

Pada tahun 2015 silam, survei yang dilakukan Symantec, sebuah perusahaan software dari California, Amerika Serikat (AS) menyebutkan, Indonesia berada di posisi ke-13 tertinggi se-Asia Pasifik untuk kasus penipuan lewat media sosial. Memang, survei tersebut tidak menyebutkan secara spesifik crowdfunding. Tapi, tidak sedikit campaign equity crowdfunding Indonesia dilakukan melalui media sosial.

Dari sisi publik, banyak yang tak sadar akan adanya penipuan berkedok donasi ini. Hasil survei Femina yang dilakukan pada 50 pembaca tentang donasi, sebanyak 86% responden memilih beramal dalam bentuk uang. Hanya 24% sisanya yang memilih jenis donasi lain, seperti barang, transfusi darah, dan dukungan.

Maka, sikap selektif diperlukan sebelum berdonasi. Saparinah Mumpuni, misalnya, mengaku tak berpikir panjang saat menyumbang berupa uang, terutama untuk membiayai pendidikan anak-anak di daerah terpencil.